TABUNGAN HAJI iB MEGA SYARIAH

Bantu Kami Mengembangkan Website Ini Dengan Satu Kali Klik Iklan DiBawah Ini. Terimakasih

TABUNGAN HAJI iB MEGA SYARIAH ### Keunggulan: * Bagi hasil yang kompetitif * Fasilitas SISKOHAT (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu) * Fleksibel dalam menentukan setoran * BEBAS biaya administrasi * Mendapatkan souvenir yang menarik * Kemudahan setor on line real time diseluruh Cabang Bank Mega Syariah, Mega Mitra Syariah dan Gallery Bank Mega Syariah. * Fasilitas autodebet untuk setoran bulanan ### Syarat dan Ketentuan : * Nasabah tabungan perorangan * Setoran awal Rp. 200.000,- * Usia minimal 17 tahun (Memiliki KTP) * Mengisi formulir pembukaan Tabungan Haji iB Mega Syariah ### Persyaratan : * Bukti Identitas Diri : KTP/SIM/Paspor ### INFO LEBIH LANJUT HUBUNGI SEGERA CS / RO KAMI - TELP. 0354-691777 (Wujudkan Impian Anda Ibadah Ke Tanah Suci)

13 Maret 2011

Pengajian Bank Umum Syariah Wilayah Kediri di BMS Kediri


“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah”. (Q.S. Al-Ahzab : 21)
Dalam rangka meningkatkan ukhuwah islamiyah dan mempererat jalinan silaturohim antar pimpinan & karyawan Bank Umum Syariah di wilayah Kediri, Bank Mega Syariah mengadakan acara Pengajian Bank Umum Syariah Wilayah Kediri. Agenda acara Pengajian ini diadakan setiap 3 bulan sekali, tempat bergantian di masing-masing Bank Umum Syariah di wilayah Kediri. Pengajian kali ini bertempat di Bank Mega Syariah Kediri, yang diadakan pada hari Kamis tanggal 10 Maret 2011. Acara Pengajian kali ini cukup meriah dengan dihadiri oleh kurang lebih 100 orang terdiri dari karyawan beserta pimpinan dari bank-bank umum syariah di Kediri, antara lain Bank Muamalat, Bank Mandiri Syariah, Bank Rakyat Indonesia Syariah, Bank Negara Indonesia Syariah dan Bank Mega Syariah sebagai tuan rumah. Nampak para pejabat dari Bank Indonesia Kediri juga hadir dalam acara pengajian ini, diantaranya Widodo selaku Deputi BI Kediri, Ngatmo dan Bunyamin selaku Pengawas Senior BI Kediri.
Pengajian berlangsung selama kurang lebih 2 jam, dimulai jam 19:00 WIB dan berakhir sekitar jam 21:00 WIB, dibuka dengan Pembacaan Ayat Suci Al Quran oleh Sulistyo dengan Pembacaan Sari Tilawah oleh Dwi Indrawati, keduanya merupakan karyawan Bank Mega Syariah Kediri.  Acara selanjutnya yaitu Sambutan, yang disampaikan oleh Sugeng Tjandra selaku Pemimpin Bank Mega Syariah Kediri dan juga mewakili tuan rumah penyelenggara acara pengajian tersebut.



 
Pengajian ini menghadirkan Ustad H. Pagar Alam, S.H., dari Kediri, sebagai penceramah dengan mengambil tema ceramah : "Meneladani Sifat Rasulullah SAW Dalam Kehidupan Kita Sehari-hari". Dalam pokok pembahasannya dapat kami sampaikan sebagai berikut :

“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (Q.S. At-Taubah : 128).
Dengan ungkapan lain, beliau adalah sosok pribadi yang santun, peduli (care dan concern) terhadap permasalahan ummatnya, berempati dan lemah lembut. Beruntunglah kita memiliki panutan sejati yang mempunyai perfect personality. Untuk itu, masih adakah orang mukmin yang berpaling dari beliau dan (justru) mencari idola palsu dan tokoh ikutan lain bagi kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat? Sungguh, hal itu adalah kebodohan yang nyata.

Sifat-sifat utama Muhammad s.a.w. yang harus kita teladani diantaranya :
Sifat pertama, shidq (benar / jujur, dalam perkataan maupun perbuatan). Allah SWT. menyandingkan perintah bertakwa dengan perintah mengikuti orang-orang yang bersifat shidq.
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (Q.S. At-Taubah : 119).
Mengapa kita sebagai ummat Muhammad harus meneladani sifat shidq beliau? Pertama, sebagai mukmin, kita berkewajiban berdakwah (mengajak manusia kepada jalan Allah) sesuai dengan peran dan kapabilitas masing-masing. Dan untuk itu tidak mungkin kita menyampaikan sesuatu yang dusta (tidak sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya). Kedua, kebenaran dan kejujuran adalah pilar utama kehidupan bermasyarakat. Untuk itu, janganlah sekali-kali berbohong, meski dengan maksud iseng, apalagi berbohong/berdusta terhadap (ajaran) Allah dan Rasul-Nya.
Nabi SAW. memperingatkan kita: jujur mengantarkan (pelakunya) kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kepada surga. Sebaliknya, dusta mengantarkan kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan kepada neraka.
Cara untuk mencegah dan menghindarkan diri dari dusta antara lain dengan berbicara seperlunya, tidak berlebihan dalam mengobrol dan melucu. Orang beriman memang mestinya berkata benar, atau (jika tidak dapat) lebih baik diam. Begitu nasihat Rasul. (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Sifat kedua, amanah (amanat, dapat dipercaya). Allah SWT. berfirman :
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”. (Q.S. An-Nisa’ : 58).
Ingatlah misalnya ketika Muhammad SAW. ikut menyelesaikan permusuhan di antara kaum Quraisy pada masa jahiliyah, yang membuahkan kesepakatan Hilf al-Fudhul. Perhatikan juga contoh teladan beliau ketika menjalankan bisnis Siti Khadijah (sebelum beliau menikah); juga ketika beliau mendamaikan para pemuka Quraisy yang bertikai tentang masalah siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad di bangunan Ka’bah yang baru direnovasi. Semua itu menjadikan beliau dijuluki Al-Amien (yang dapat dipercaya) oleh kaumnya.
Shidq dan amanah adalah ciri utama orang beriman. Sebaliknya, dusta dan khianat adalah sifat orang munafik. Sifat amanah niscaya penting dan menjadi tuntutan utama setiap profesi.
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Seorang pedagang yang amanah dan jujur (kelak di akhirat) berada bersama dengan para nabi, ash-shiddiqin, para syuhada’, dan orang-orang shalih.” (H.R. At-Tirmidzi)

Sifat ketiga, tabligh (menyampaikan hal yang diperintahkan untuk disampaikan, tidak menyembunyikannya).
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”. (Q.S. Al-Maidah : 67).
“Dan janganlah kamu (Bani Israil) campuradukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui”. (Q.S. Al-Baqarah : 42).
Allah SWT. mengancam orang-orang yang menyembunyikan kebenaran dengan hukuman dan siksa: [1] dilaknat oleh Allah dan semua makhluk (Q.S. Al-Baqarah : 159); [2] masuk neraka (Q.S. Al-Baqarah : 174).
Dalam bidang pendidikan dan/atau keilmuan, Nabi SAW. bersabda (yang artinya): “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dia tidak mau menjawab (menyembunyikannya), niscaya dia di hari kiamat akan dikekang dengan tali kekang dari api neraka”.

Keempat, fathanah (cerdas, cerdik, dan pandai). Kecerdasan dan kepadaian (pencapaian derajat ilmiah) itu niscaya perlu, bahkan terpuji.
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (Q.S. Al-Mujadilah : 11).
Telah maklum dan diakui bahwa setiap bidang kehidupan memerlukan ilmunya yang tersendiri. Ilmu dibutuhkan oleh manusia sebagai individu maupun sebagai komunitas masyarakat. Ilmu juga dibutuhkan dalam rangka beribadah dan memahami petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Hanya saja, ilmu itu haruslah bermanfaat (dalam pengertian produktif dan konstruktif), terutama untuk membangun bangsa dan negara yang aman, damai, sejahtera, adil, dan beradab (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur). Sebutan negara dan bangsa maju (developed countries, super power, dan lain-lain) selalu merujuk kepada tingginya pencapaian ilmu pengetahuan dan tekonologi.
Untuk itu kita, bangsa Indonesia, mestilah segera dan senantiasa meneladani sifat fathanah Rasul itu, dan mengabdikannya bagi kejayaan ummat dan bangsa. Tinggalkan dan jauhkan sikap yang kontra ilmiah, seperti:  takhayul (mistik), percaya kepada dukun atau tukang ramal, dan sebagainya. Jadilah pribadi dan bangsa yang rasional di bawah sinar iman dan bimbingan wahyu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar