TABUNGAN HAJI iB MEGA SYARIAH

Bantu Kami Mengembangkan Website Ini Dengan Satu Kali Klik Iklan DiBawah Ini. Terimakasih

TABUNGAN HAJI iB MEGA SYARIAH ### Keunggulan: * Bagi hasil yang kompetitif * Fasilitas SISKOHAT (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu) * Fleksibel dalam menentukan setoran * BEBAS biaya administrasi * Mendapatkan souvenir yang menarik * Kemudahan setor on line real time diseluruh Cabang Bank Mega Syariah, Mega Mitra Syariah dan Gallery Bank Mega Syariah. * Fasilitas autodebet untuk setoran bulanan ### Syarat dan Ketentuan : * Nasabah tabungan perorangan * Setoran awal Rp. 200.000,- * Usia minimal 17 tahun (Memiliki KTP) * Mengisi formulir pembukaan Tabungan Haji iB Mega Syariah ### Persyaratan : * Bukti Identitas Diri : KTP/SIM/Paspor ### INFO LEBIH LANJUT HUBUNGI SEGERA CS / RO KAMI - TELP. 0354-691777 (Wujudkan Impian Anda Ibadah Ke Tanah Suci)

17 Desember 2009

MUHARRAM = SURO

penyunting : Jouhar BR

Muharram

Muharram (محرّم) adalah bulan pertama dalam penanggalan hijriyah. Muharram berasal dari kata yang artinya 'diharamkan' atau 'dipantang', yaitu dilarang melakukan peperangan atau pertumpahan darah. Tanggal 1 Muharram adalah hari Tahun Baru dalam agama Islam.


Budaya Suroan di Krt Surakarta

Keraton Surakarta atau lengkapnya dalam bahasa Jawa disebut Karaton Surakarta Hadiningrat adalah istana Kasunanan Surakarta. Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II (Sunan PB II) pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan 1743. Istana terakhir Kerajaan Mataram didirikan di desa Sala (Solo), sebuah pelabuhan kecil di tepi barat Bengawan (sungai) Beton/Sala. Setelah resmi istana Kerajaan Mataram selesai dibangun, nama desa itu diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Istana ini pula menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram oleh Sunan PB II kepada VOC di tahun 1749. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini kemudian dijadikan istana resmi bagi Kasunanan Surakarta.
Selain memiliki kemegahan bangunan Keraton Surakarta juga memiliki suatu warisan budaya yang tak ternilai. Diantarannya adalah upacara-upacara adat, tari-tarian sakral, musik, dan pusaka (heirloom). Upacara adat yang terkenal adalah upacara Garebeg, upacara Sekaten, dan upacara Malam Satu Suro. Upacara yang berasal dari zaman kerajaan ini hingga sekarang terus dilaksanakan dan merupakan warisan budaya Indonesia yang harus dilindungi dari klaim pihak asing

Garebeg

Upacara Garebeg diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun kalender/penanggalan Jawa yaitu pada tanggal dua belas bulan Mulud (bulan ketiga), tanggal satu bulan Sawal (bulan kesepuluh) dan tanggal sepuluh bulan Besar (bulan kedua belas). Pada hari hari tersebut raja mengeluarkan sedekahnya sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran kerajaan. Sedekah ini, yang disebut dengan Hajad Dalem, berupa pareden/gunungan yang terdiri dari gunungan kakung dan gunungan estri (lelaki dan perempuan).

Gunungan kakung berbentuk seperti kerucut terpancung dengan ujung sebelah atas agak membulat. Sebagian besar gunungan ini terdiri dari sayuran kacang panjang yang berwarna hijau yang dirangkaikan dengan cabai merah, telur itik, dan beberapa perlengkapan makanan kering lainnya. Di sisi kanan dan kirinya dipasangi rangkaian bendera Indonesia dalam ukuran kecil. Gunungan estri berbentuk seperti keranjang bunga yang penuh dengan rangkaian bunga. Sebagian besar disusun dari makanan kering yang terbuat dari beras maupun beras ketan yang berbentuk lingkaran dan runcing. Gunungan ini juga dihiasi bendera Indonesia kecil di sebelah atasnya.


Sekaten

Sekaten merupakan sebuah upacara kerajaan yang dilaksanakan selama tujuh hari. Konon asal-usul upacara ini sejak kerajaan Demak. Upacara ini sebenarnya merupakan sebuah perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad. Menurut cerita rakyat kata Sekaten berasal dari istilah credo dalam agama Islam, Syahadatain. Sekaten dimulai dengan keluarnya dua perangkat Gamelan Sekati, Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari, dari keraton untuk ditempatkan di depan Masjid Agung Surakarta. Selama enam hari, mulai hari keenam sampai kesebelas bulan Mulud dalam kalender Jawa, kedua perangkat gamelan tersebut dimainkan/dibunyikan (Jw: ditabuh) menandai perayaan sekaten. Akhirnya pada hari ketujuh upacara ditutup dengan keluarnya Gunungan Mulud. Saat ini selain upacara tradisi seperti itu juga diselenggarakan suatu pasar malam yang dimulai sebulan sebelum penyelenggaraan upacara sekaten yang sesungguhnya.


Malam Satu Suro

Malam satu suro dalam masyarakat Jawa adalah suatu perayaan tahun baru menurut kalender Jawa. Malam satu suro jatuh mulai terbenam matahari pada hari terakhir bulan terakhir kalender Jawa (30/29 Besar) sampai terbitnya matahari pada hari pertama bulan pertama tahun berikutnya (1 Suro). Di Keraton Surakarta upacara ini diperingati dengan Kirab Mubeng Beteng (Perarakan Mengelilingi Benteng Keraton). Upacara ini dimulai dari kompleks Kemandungan utara melalui gerbang Brojonolo kemudian mengitari seluruh kawasan keraton dengan arah berkebalikan arah putaran jarum jam dan berakhir di halaman Kemandungan utara. Dalam prosesi ini pusaka keraton menjadi bagian utama dan diposisikan di barisan depan kemudian baru diikuti para pembesar keraton, para pegawai dan akhirnya masyarakat. Suatu yang unik adalah di barisan terdepan ditempatkan pusaka yang berupa sekawanan kerbau albino yang diberi nama Kyai Slamet yang selalu menjadi pusat perhatian masyarakat.


Referensi

Aart van Beek (1990). Images of Asia: "Life in the Javanese Kraton". Singapore: Oxford University Press. ISBN 979-497-123-5.

Periplus Edition Singapore (1997). Periplus Adventure Guide "Java Indonesia". Periplus Singapore.

Acara budaya dengan judul Pocung dalam episode Wewangunan Karaton Surakarta Hadiningrat disiarkan oleh JogjaTV


23 November 2009

QURBAN

Qurban atau Kurban (bahasa Arab قربن), atau disebut juga Udhhiyah atau Dhahiyyah secara harfiah berarti hewan sembelihan. Sedangkan ritual Qurban adalah salah satu ritual ibadah pemeluk agama Islam, dimana dilakukan penyembelihan binatang ternak untuk dipersembahkan kepada Allah. Ritual kurban dilakukan pada bulan Dzulhijjah pada penanggalan Islam, yakni pada tanggal 10 (hari nahar) dan 11,12 dan 13 (hari tasyrik) bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.


Latar belakang historis

Dalam sejarah sebagaimana yang disampaikan dalam Al Qur'an terdapat dua peristiwa dilakukannya ritual Qurban yakni oleh Habil (Abel) dan Qabil (Cain), putra Nabi Adam alaihis salam, serta pada saat Nabi Ibrahim akan mengorbankan Nabi Ismail atas perintah Allah.

Habil dan Qabil

Pada surat Al Maaidah ayat 27 disebutkan:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa".

Ibrahim dan Ismail

Disebutkan dalam Al Qur'an, Allah memberi perintah melalui mimpi kepada Nabi Ibrahim untuk mempersembahkan Ismail. Diceritakan dalam Al Qur'an bahwa Ibrahim dan Ismail mematuhi perintah tersebut dan tepat saat Ismail akan disembelih, Allah menggantinya dengan domba. Berikut petikan surat Ash Shaaffaat ayat 102-107 yang menceritakan hal tersebut.

102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
103. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).
104. Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
105. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar

Dalil tentang berkurban

Ayat dalam Al Qur'an tentang ritual kurban antara lain :

  • surat Al Kautsar ayat 2: Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (anhar)

Sementara hadits yang berkaitan dengan kurban antara lain:

  • “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami.” HR. Ahmad dan ibn Majah.
  • Hadits Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.” Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” HR. Ahmad dan ibn Majah
  • “Jika masuk tanggal 10 Dzul Hijjah dan ada salah seorang diantara kalian yang ingin berqurban, maka hendaklah ia tidak cukur atau memotong kukunya.” HR. Muslim
  • “Kami berqurban bersama Nabi SAW di Hudaibiyah, satu unta untuk tujuh orang, satu sapi untuk tujuh orang. “ HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi.

Hukum kurban

Mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, dan fuqaha (ahli fiqh) menyatakan bahwa hukum qurban adalah sunnah muakkadah (utama), dan tidak ada seorangpun yang menyatakan wajib, kecuali Abu Hanifah (tabi’in). Ibnu Hazm menyatakan: “Tidak ada seorang sahabat Nabi pun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib.


Syarat dan pembagian daging kurban

Syarat dan ketentuan pembagian daging kurban adalah sebagai berikut :

  • Orang yang berkurban harus mampu menyediakan hewan sembelihan dengan cara halal tanpa berutang.
  • Kurban harus binatang ternak, seperti unta, sapi, kambing, atau biri-biri.
  • Binatang yang akan disembelih tidak memiliki cacat, tidak buta, tidak pincang, tidak sakit, dan kuping serta ekor harus utuh.
  • Hewan kurban telah cukup umur, yaitu unta berumur 5 tahun atau lebih, sapi atau kerbau telah berumur 2 tahun, dan domba atau kambing berumur lebih dari 1 tahun.
  • Orang yang melakukan kurban hendaklah yang merdeka (bukan budak), baligh, dan berakal.
  • Daging hewan kurban dibagi tiga, 1/3 untuk dimakan oleh yang berkurban, 1/3 disedekahkan, dan 1/3 bagian dihadiahkan kepada orang lain.

Waktu berkurban

  • Awal waktu

Waktu untuk menyembelih kurban (qurban) bisa di 'awal waktu' yaitu setelah shalat Ied langsung dan tidak menunggu hingga selesai khutbah. Bila di sebuah tempat tidak terdapat pelaksanaan shalat Ied, maka waktunya diperkirakan dengan ukuran shalat Ied. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum waktunya maka tidak sah dan wajib menggantinya .

Dalilnya adalah hadits-hadits berikut: a. Hadits Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى “Barangsiapa yang shalat seperti shalat kami dan menyembelih hewan qurban seperti kami, maka telah benar qurbannya. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaklah dia menggantinya dengan yang lain.” (HR. Al-Bukhari no. 5563 dan Muslim no. 1553) Hadits senada juga datang dari sahabat Jundub bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhari (no. 5500) dan Muslim (no. 1552).

b. Hadits Al-Bara` riwayat Al-Bukhari (no. 5556) dan yang lainnya tentang kisah Abu Burdah radhiyallahu ‘anhu yang menyembelih sebelum shalat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ “Kambingmu adalah kambing untuk (diambil) dagingnya saja.” Dalam lafadz lain (no. 5560) disebutkan: وَمَنْ نَحَرَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ يُقَدِّمُهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ شَيْءٌ “Barangsiapa yang menyembelih (sebelum shalat), maka itu hanyalah daging yang dia persembahkan untuk keluarganya, bukan termasuk hewan qurban sedikitpun.”

  • Akhir waktu

Waktu penyembelihan hewan qurban adalah 4 hari, hari Iedul Adha dan tiga hari sesudahnya. Waktu penyembelihannya berakhir dengan tenggelamnya matahari di hari keempat yaitu tanggal 13 Dzulhijjah. Ini adalah pendapat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Al-Hasan Al-Bashri imam penduduk Bashrah, ‘Atha` bin Abi Rabah imam penduduk Makkah, Al-Auza’i imam penduduk Syam, Asy-Syafi’i imam fuqaha ahli hadits rahimahumullah. Pendapat ini dipilih oleh Ibnul Mundzir, Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (2/319), Ibnu Taimiyah, Al-Lajnah Ad-Da`imah (11/406, no. fatwa 8790), dan Ibnu ‘Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (3/411-412). Alasannya disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu sebagai berikut: 1. Hari-hari tersebut adalah hari-hari Mina. 2. Hari-hari tersebut adalah hari-hari tasyriq. 3. Hari-hari tersebut adalah hari-hari melempar jumrah. 4. Hari-hari tersebut adalah hari-hari yang diharamkan puasa padanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَيَّامُ التَّشْرِيْقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلهِ تَعَالَى “Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan, minum, dan dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.” Adapun hadits Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: كَانَ الْمُسْلِمُوْنَ يَشْرِي أَحَدُهُمُ اْلأُضْحِيَّةَ فَيُسَمِّنُهَا فَيَذْبَحُهَا بَعْدَ اْلأضْحَى آخِرَ ذِي الْحِجَّةِ “Dahulu kaum muslimin, salah seorang mereka membeli hewan qurban lalu dia gemukkan kemudian dia sembelih setelah Iedul Adha di akhir bulan Dzulhijjah.” (HR. Al-Baihaqi, 9/298) Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengingkari hadits ini dan berkata: “Hadits ini aneh.” Demikian yang dinukil oleh Ibnu Qudamah dalam Syarhul Kabir (5/193). Wallahu a’lam.

  • Menyembelih di waktu siang atau malam?

Tidak ada khilafiah di kalangan ulama tentang kebolehan menyembelih qurban di waktu pagi, siang, atau sore, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَاتٍ “Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” (Al-Hajj: 28)

Mereka hanya berbeda pendapat tentang menyembelih qurban di malam hari. Yang rajih adalah diperbolehkan, karena tidak ada dalil khusus yang melarangnya. Ini adalah tarjih Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu dalam Asy-Syarhul Mumti’ (3/413) dan fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah (11/395, no. fatwa 9525). Yang dimakruhkan adalah tindakan-tindakan yang mengurangi sisi keafdhalannya, seperti kurang terkoordinir pembagian dagingnya, dagingnya kurang segar, atau tidak dibagikan sama sekali. Adapun penyembelihannya tidak mengapa. Adapun ayat di atas (yang hanya menyebut hari-hari dan tidak menyebutkan malam), tidaklah menunjukkan persyaratan, namun hanya menunjukkan keafdhalan saja. Adapun hadits yang diriwayatkan Ath-Thabarani dalam Al-Kabir dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan lafadz: نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الذَبْحِ بِاللَّيْلِ “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyembelih di malam hari.” Al-Haitsami rahimahullahu dalam Al-Majma’ (4/23) menyatakan: “Pada sanadnya ada Salman bin Abi Salamah Al-Janabizi, dia matruk.” Sehingga hadits ini dha’if jiddan (lemah sekali). Wallahu a’lam. (lihat Asy-Syarhul Kabir, 5/194)

Referensi : Fiqh Qurban oleh Syaikh Shalih ibn Abdul Aziz Alu Al-Syaikh

11 September 2009

SAFARI RAMADHAN BANK MEGA SYARIAH DI KEDIRI


Safari Ramadhan kali ini berada di Kantor Bank Mega Syariah (BMS) Cabang Kediri, beralamat di Jalan Pahlawan Kusuma Bangsa No. 12 Kediri ini dikomandani oleh Bpk. Sugeng Tjandra selaku Branch Manager BMS Cabang Kediri. Safari Ramadhan ini di hadiri oleh Bpk. H.B. Purnomo selaku Direktur HCM Bank Mega Syariah didampingi oleh Bpk. Tri Bhakti dari Kantor Pusat. Peserta dalam acara ini dihadiri oleh Seluruh Karyawan BMS Cabang Kediri beserta karyawan dari Mega Mitra Syariah (M2S) Malang yang dikomandani oleh Bpk. Eko Putranto, selaku Branch Manager BMS Cabang Malang dan karyawan dari Gallery BMS Jombang yang dikomandani oleh Ibu Indri, selaku Pimpinan Kantor Gallery BMS Jombang.
Acara ini berlangsung dengan hikmad dengan menghadirkan Ustad H. Afnan Pagar Alam, S.H., dalam Tausiahnya dengan mengambil Tema "Menggapai Malam Lailatul Qodar", adapun resume dari apa yang disampaikan dalam tausiah tersebut dapat kami paparkan sbb :

Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) (malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, yang dalam Al Qur'anbulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur'an. Deskripsi tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al Qadar, surat ke-97 dalam Al Qur'an.
digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu
Menurut Quraish Shihab, kata Qadar (قﺩﺭ) sesuai dengan penggunaannya dalam ayat-ayat Al Qur'an dapat memiliki tiga arti yakni [1]:
  1. Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan Qadar sebagai ketetapan dapat dijumpai pada surat Ad Dukhan ayat 3-5 : Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penah hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami
  2. Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran. Penggunaan Qadar yang merujuk pada kemuliaan dapat dijumpai pada surat Al-An'am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat
  3. Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr. Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan dapat dijumpai pada surat Ar-Ra'd ayat 26: Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)


Dalam Al Qur'an, tepatnya Surat Al Qadar malam ini dikatakan memiliki nilai lebih baik dari seribu, bulan .97:1 Pada malam ini juga dikisahkan Al Qur'an diturunkan, seperti dikisahkan pada surat Ad Dukhan ayat 3-6. 44:3

Terdapat pendapat yang mengatakan bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan, hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah yang mengatakan : " Rasulullah ShallAllahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, yang artinya: "Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon" " (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169)

Ketika Adzan Maghrib telah berkumandang, acara dilanjutkan doa bersama dan berbuka takjil. Sholat Maghrib berjamaah bersama Ustad H. Afnan Pagar Alam, S.H. selaku Imam, dilanjutkan dengan berbuka bersama dengan hidangan yang telah disediakan dari Pihak Panitia. Hidangan buka kali ini disediakan oleh Ibu Siktarina selaku Panitia sie Konsumsi.

Dalam kesempatan ini juga Bpk. H.B. Purnomo menyampaikan sambutannya dalam Rangka Safari Ramadhan dengan membuka dialog tanya jawab untuk para peserta khususnya yang berkaitan dengan operasional kantor BMS. Dalam acara terakhir dimanfaatkan untuk foto bersama.




03 Mei 2009

Perbedaan Agama Tak Menyurutkan Karirnya

Penyunting : Jauhar B.R.
( Mega Syariah News Edisi April 2009 )

Saya tertarik masuk ke perbankan syariah karena saya non-Muslim. Meski telah 27 tahun berkecimpung di bank konvensional, saya tidak mengerti sama sekali tentang perbankan syariah. Ini salah satu alasan saya bergabung dengan BMS.



Kendati identik dengan agama islam, perbankan syariah sesungguhnya bukan monopoli kaum muslim. Itulah keyakinan yang dianut oleh Sugeng Tjandra. Meski berlatang belakang non-Muslim, Sugeng Tjandra tetap enjoy menikmati pekerjaannya sebagai salah satu karyawan BMS. Menurut Tjandra begitu ia sering di sapa, bank syariah bukanlah bank yang khusus hanya melayani umat Islam. Perbankan syariah sesunguhnya merupakan sistem yang berlaku untuk semua umat. Apalagi prinsip syariah senantiasa menjunjung keterbukaan, keadilan dan kejujuran.”

Berbekal pemahaman itulah, Tjandra merenda karirnya di BMS. Setiap kali menemui nasabah, pria yang sudah malang melintang di dunia perbakan selama 27 tahun ini selalu menyampaikan latar belakang agamanya. Dengan cara itu, ia berharap nasabah tak merasa canggung apalagi ketakutan ketika mendengar bank syariah.

Tjandra bercerita, ketika menemui kalangan non-Muslim atau komunitas Cina, banyak mereka yang tidak terlalu mempersoalkan status syariah tersebut. Bagi para nasabah itu, yang penting dana mereka aman dan bagi hasilnya menguntungkan. “Untuk bisa meraih hati nasabah, pelayanan benar-benar menjadi kunci utama. Jangan sampai mereka kecewa, karena itu bisa merugikan kita sendiri,” katanya.

Suami Linda Gunawan ini menuturkan, untuk menjaring nasabah, khususnya komunitas Cina pendekatan kesukuan lebih tepat. Soalnya, komunitas ini memiliki hubungan dan kekerabatan yang sangat erat. Komunitas Cina juga di kenal amat tertutup terhadap orang yang belum di kenal, kususnya mereka yang berasal dari kelompok kaya. Oleh sebab itu, kerahasiaan nasabah harus benar–benar dijaga. Orang cina tak ingin orang tau tentang kehidupannya.

Tjandra bilang, untuk masuk ke warga cina bukan hal yang sulit. Syaratnya, kita dapat memahami karakter dan dapat membawa diri ketika berada di dalam komunitas itu. Ketika kita sampai mengecewakan mereka, hubungan ke seluruh komunitas bisa terganggu. Dampaknya, hubungan bisnis pun tak lancar. “ Hal-hal seperti inilah yang penting dipahami untuk mendekati mereka,” ujarnya.

Tjanra bergabung dengan BMS sejak bank ini masih berbendera Bank umum Tugu. Bank tersebut pada 2001 diambil alih oleh Para Group dan pada tahun 2004 dikonversi menjadi syariah, Tjandra di tawari untuk memilih dua opsi, yaitu bergabung dengan BMS atau tidak. “saya memilih bergabung karena saya belum tahu apa-apa tentang perbankan syariah,” katanya. Tjandra telah bekerja di bank konvensional sejak 1977 yaitu di Bank Bali.

Sebelum memutuskan bergabung, Tjandra mengaku telah mempertimbangkan secara matang. Maklum dia menganut agama Katholik. Karena latar belakang agama itulah Tjandra sempat kawatir akan bertahan lama di BMS. Bahkan, dia sempat mengungkapkan keraguan itu kepada manajemen. Tapi, rupanya, manajemen baru BMS tidak mempersoalkan agama, ras dan perbedaan lain. Menurut Tjandra sebelum mengambil keputusan, dia sering berdiskusi dengan Deviana Wijaya, Branch Manajer BMS Cabang Surabaya Semut.

Deviana, yang kala itu menjadi Kepala Operasi Bank Tugu memberikan dorongan positif untuk belajar dan bergabung dengan BMS” jelas Tjandra. Sejak itu pula hubungan mereka berdua kian dekat secara professional.

Pimpinan Cabang BMS Kediri ini mengaku perbedaan keyakinannya dengan karyawan tidak membuat kinerjanya terganggu. Terbukti, cabang yang kini dipimpinnya terus berkembang dan makin mendapat tempat di masyarakat. “Kalau urusan ibadah, itu urusan kita pribadi dengan Tuhan. Kita saling menghargai dan menghormati agama masing-masing” jelasnya. Setuju Pak !!

24 Januari 2009

GONG XI FAT CAI

SELURUH MANAJEMEN & KARYAWAN
PT. BANK SYARIAH MEGA INDONESIA KEDIRI
MENGUCAPKAN
SELAMAT TAHUN BARU IMLEK 2560

SEKELUMIT TENTANG GONG XI FAT CAI

Gong Xi Fat Chai, demikian yang sering kita dengar ketika Imlek (Tahun Baru Cina) datang, apa sih artinya ? ada yang mengatakan itu artinya adalah ”semoga makmur”, ”semoga sukses selalu”.

Tanggal 26 Januari 2009 orang-orang etnis Cina (?) merayakan Tahun Baru Imlek 2560, yang pada tahun ini jatuh pada shio kerbau tanah. Awal mulanya Imlek adalah sebuah perayaan para petani yang biasanya dilakukan pada awal bulan di tahun baru, sekaligus menyambut musim semi di Cina, dan perayaan akan berakhir pada pertengahan bulan atau tanggal 15 bulan tersebut. Sembahyang Imlek dilakukan, dan perayaan Cap Go Meh, sebagai wujud syukur dan do’a agar lebih makmur di tahun berikutnya, menjamu leluhur, dan silaturahmi kepada tetangga dan sanak saudara. Gong Xi Fat Chai, demikian yang sering kita dengar ketika Imlek (Tahun Baru Cina) datang, apa sih artinya ? ada yang mengatakan itu artinya adalah ”semoga makmur”, ”semoga sukses selalu”.

Tanggal 26 Januari 2009 orang-orang etnis Cina (?) merayakan Tahun Baru Imlek 2560, yang pada tahun ini jatuh pada shio kerbau tanah. Awal mulanya Imlek adalah sebuah perayaan para petani yang biasanya dilakukan pada awal bulan di tahun baru, sekaligus menyambut musim semi di Cina, dan perayaan akan berakhir pada pertengahan bulan atau tanggal 15 bulan tersebut. Sembahyang Imlek dilakukan, dan perayaan Cap Go Meh, sebagai wujud syukur dan do’a agar lebih makmur di tahun berikutnya, menjamu leluhur, dan silaturahmi kepada tetangga dan sanak saudara.

Kata “Imlek” berasal dari dialek bahasa Hokkian yang berarti "penanggalan bulan" atau “yinli” dalam bahasa Mandarin. Tahun Baru Imlek di Tiongkok lebih dikenal dengan sebutan “Chunjie” (perayaan musim semi). Kegiatan perayaan itu disebut “Guo nian” (memasuki tahun baru), sedang di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan “konyan”. Di Indonesia mereka merayakan Tahun Baru Imlek sebagai perayaan hari lahirnya Kong Hu Chu yang lahir di tahun 551 SM, sehingga dengan demikian penanggalan Imlek dan penanggalan masehi itu berselisih 551 tahun. Jika tahun Masehi saat ini 2009, maka tahun Imleknya menjadi 2009 + 551 = 2560.

Karena perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani, maka segala bentuk persembahannya adalah berupa berbagai jenis makanan. Idealnya, pada setiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Di Cina, hidangan yang wajib adalah mie panjang umur (siu mi) dan arak. Di Indonesia, hidangan yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti "kemakmuran," "panjang umur," "keselamatan," atau "kebahagiaan," dan merupakan hidangan kesukaan para leluhur. Kue-kue yang dihidangkan biasanya lebih manis daripada biasanya. Diharapkan, kehidupan di tahun mendatang menjadi lebih manis. Di samping itu dihidangkan pula kue lapis sebagai perlambang rezeki yang berlapis-lapis. Kue mangkok dan kue keranjang juga merupakan makanan yang wajib dihidangkan pada waktu persembahyangan menyambut datangnya tahun baru Imlek. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok. Ada juga makanan yang dihindari dan tidak dihidangkan, misalnya bubur. Bubur tidak dihidangkan karena makanan ini melambangkan kemiskinanKedua belas hidangan itu lalu disusun di meja sembahyang yang bagian depannya digantungi dengan kain khusus yang biasanya bergambar naga berwarna merah. Pemilik rumah lalu berdoa memanggil para leluhurnya untuk menyantap hidangan yang disuguhkan.

Makanan lainnya yang sering disajikan menjelang Imlek adalah ikan bandeng, sebab ikan ini melambangkan rezeki. Dalam logat Mandarin, kata "ikan" sama bunyinya dengan kata "yu" yang berarti “sisa”. Seperti juga kata yu yang sering tercantum di lukisan gambar sembilan ikan, disitu tercantum "nian nian you yu" yang berarti “setiap tahun selalu ada (rezeki) sisa”. Tetapi
bagi mang Ucup mungkin lebih cocok apabila ditulis “nian nian you mei mei” yang berarti “setiap tahun selalu ada gadis yang mendampingi”
Selain ikan bandeng yang juga kudu disuguhkan adalah jeruk kuning, yang lazim disebut sebagai "jeruk emas" (jin ju). Kalau bisa dicarikan jeruk yang ada daunnya sebab itu melambangkan kekayaannya akan bertumbuh terus.
Kata “jeruk” dalam bahasa Tionghoa bunyinya hampir sama dengan “Da Ji”, sedangkan arti kata dari “Da Ji” itu sendiri berarti besar rejeki.
Sedangkan untuk buah “Apel” (pin guo ) mempunyai arti "ping ping an an" sama artinya dengan " Da li" yang berarti besar kesehatannya dan keselamatannya dan untuk buah pear melambangkan kebahagian yang atinya " Sun Sun li li".
Oleh sebab itu ketiga macam buah ini selalu menghiasi meja sembahyangan yang mengartikan " Da Ji Da Li Sun sun li li" = “Besar rejeki, besar kesehatan & keselamatannya dan besar pula kehabagiaannya”. Begitu juga dalam memberikan entah itu uang ataupun barang maupun buah-buah sebaiknya dalam kelipatan dua jadi angka genap begitu, sebab terdapat sebuah
pepatah Tionghoa terkenal yang berbunyi "Hao Shi Cheng Shuang", yang secara harafiah dapat diartikan "Semua yang baik harus datang secara berpasangan".
Di malam tahun baru orang-orang biasanya bersantap di rumah atau di restoran. Setelah selesai makan malam mereka bergadang semalam suntuk dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar agar rezeki bisa masuk ke rumah dengan leluasa. Pada waktu ini disediakan camilan khas Imlek berupa kuaci, kacang, dan permen. Pada waktu Imlek, makanan yang tidak boleh dilupakan adalah lapis legit, kue nastar, kue semprit, kue mawar, serta manisan kolang-kaling. Agar pikiran menjadi jernih, disediakan agar-agar yang dicetak seperti bintang sebagai simbol kehidupan yang terang. Tujuh hari sesudah Imlek dilakukan persembahyangan kepada Sang Pencipta. Tujuannya adalah sujud kepadaNya dan memohon kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru dimasuki. Lima belas hari sesudah Imlek dilakukan sebuah perayaan yang disebut dengan Cap Go Meh. Masyarakat keturunan Cina di Semarang merayakannya dengan menyuguhkan lontong Cap Go Meh yang terdiri dari lontong, opor ayam, lodeh terung, telur pindang, sate abing, dan sambal docang. Sementara di Jakarta, menunya adalah lontong, sayur godog, telur pindang, dan bubuk kedelai. Pada waktu perayaan Imlek juga dirayakan berbagai macam keramaian yang menyuguhkan atraksi barongsai dan kembang api.
Pada hari raya tahun baru Imlek, orang-orang saling mengucapkan “Sin Cun Kiong Hie” (Xin Chun Gong Xi) yang berarti selamat menyambut musim semi atau selamat tahun baru, tetapi ucapan demikian sekarang udah kuno & tidak trendi lagi, karena telah diganti dengan “Gong Xi Fa Cai” atau (Kiong Hie Hoat Cay) yang berarti semoga sukses selalu atau selamat jadi kaya, maklum generasi sekarang lebih ke money oriented begitu, dan bagi mereka yang ingin mengucapkan selamat tahun baru Imlek dengan kalimat yang lebih afdol lagi lihat dibawah ini:

“Gong Xi Fa Cai – Wan Shi Ru Yi - Shen Ti Jian Kang”
Yang berarti semoga sukses selama-lamanya & selalu dalam keadaan sehat.

Dari berbagai sumber

19 Januari 2009

BANK INDONESIA MINTA PERBANKAN KAJI ULANG SISTEM TENAGA KONTRAK


PENYUNTING : JAUHAR B.R., S.H.


Alasan efisiensi dalam sistem outsourcing dan kontrak tidak tepat. Pasalnya, sistem ini dapat berdampak negatif bagi ketahanan perbankan nasional.

Sistem perekrutan tenaga kerja jangka pendek dengan pola outsourcing maupun kontrak yang selama ini lazim diterapkan oleh pelaku usaha, tak terkecuali di kalangan perbankan, dikritik Bank Indonesia (BI). Bank sentral ini bahkan menilai pola ini ke depan dapat berdampak negatif bagi ketahanan perbankan nasional.

“Sistem ini tidak tepat!” tegas Gubernur BI Burhanuddin Abudullah saat menjadi pembicara dalam Seminar Pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) Perbankan Indonesia, di Gedung Lembaga Pendidikan Perbankan Indonesia (LPPI), Kemang, Jakarta Selatan, Senin (9/7).

Menurut Burhan -panggilan akrab Burhanuddin- pola outsourcing tidak akan bertahan bagi efisiensi perbankan dalam jangka panjang. “Mereka (perbankan, red) meng-hire S1 dan S2 secara kontrak dengan digaji tidak terlalu besar, ini ada trade off-nya. Kalau dengan cara seperti itu berarti tidak ada investasi untuk peningkatan kemampuan dan pengetahuan,” ujarnya.

Dia mengatakan, saat ini sebagian besar bank masih berpikir jangka pendek dalam memandang keberadaan sumber daya manusia, salah satunya menerima pegawai dengan sistem kontrak. Padahal, kata dia, seharusnya bank memandang pegawai sebagai investasi jangka panjang.

Ia menambahkan, alasan efisiensi yang dilakukan perbankan dengan pola ini juga tidak berdasar. Dia menjelaskan, yang perlu dikhawatirkan dalam perekonomian Indonesia saat ini adalah jika terjadi proses penurunan daya saing secara sistematik. Untuk itu, menurutnya, yang harus dilakukan perbankan saat ini adalah meningkatkan kemampuan sumber daya manusia. “Nah, sekarang, bagaimana mau bisa meningkatkan daya saing jika menerima pegawai hanya jangka pendek,” cetus pria kelahiran Garut, 10 Juli 1947 ini.

Burhan menyarankan, sebaiknya perbankan melakukan investasi terhadap sumber daya manusia dengan pola perekrutan tenaga kerja untuk jangka waktu yang agak panjang. Dengan begitu, menurutnya, keterampilan dan pengetahuan pegawai bank bisa ditingkatkan. “Saya meminta kalangan perbankan untuk mengkaji ulang sistem perekrutan semacam itu,” ujar Burhan.

Sayang, belum ada niatan BI untuk mengatur secara khusus penggunaan tenaga kerja dengan sistem outsourcing maupun kontrak di perbankan. “Kita belum terpikir untuk membuat aturannya,” jelas lulusan Sarjana Pertanian Universitas Padjajaran Bandung tahun 1974 ini.

Menanggapi kritikan ini, Ketua Perbanas Sigit Pramono mengakui perbankan memang menggunakan pola outsourcing dan kontrak untuk efisiensi sumber daya manusia. Namun hal ini diimbangi dengan pertimbangan beberapa hak untuk penggunaan tenaga kerja outsourcing dan kontrak. Menurutnya, selain untuk efisiensi, outsourcing itu dipakai untuk jenis pekerjaan yang membutuhkan orang yang lebih ahli di bidangnya. Misalnya untuk jasa kurir, servis, teknologi. Sementara untuk tenaga kontrak, sangat tepat digunakan untuk pengerjaan proyek. Dengan begitu, kata dia, perbankan bisa fokus pada penyaluran kredit dan pertumbuhan perbankan saja.

Sigit menambahkan, efisiensi sumber daya manusia bukan satu-satunya cara untuk meningkatkan efisiensi perbankan. Selain sumber daya manusia efisiensi juga dilakukan melalui optimalisasi teknologi, pengurangan overhead cost dan pengurangan biaya dana.


KESULITAN BANK KECIL

Pada kesempatan yang sama, Burhan juga mengungkapkan saat ini institusi perbankan nasional sedang memiliki ketahanan yang kuat, sehingga jauh dari krisis. Menurutnya, kalaupun terjadi krisis seperti tahun 1997, perbankan Indonesia akan dapat bertahan dari depresiasi nilai tukar yang sangat besar.

Hanya saja, yang perlu diwaspadai adalah eksistensi bank kecil. Menurutnya, bank kecil masih sangat rentan terhadap krisis dibandingkan bank yang besar. “Kalau terjadi krisis lagi, dengan nilai tukar yang terdepresiasi sangat besar, hanya 3 bank dan bank-bank kecil yang akan mengalami kesulitan. Selebihnya, 120-an bank kita akan tetap tegar dan tetap bisa melaksanakan tugasnya,” urai pria yang pernah menjabat sebagai Assistant Executive Director di IMF tahun 1990-1993 ini.

Burhan mengatakan, menjelang krisis sepuluh tahun silam, kondisi fundamental ekonomi Indonesia juga cukup kuat. Hanya saja, ada satu hal yang terlupa, yakni institusi perbankan sangat lemah. “Inilah yang menyebabkan krisis. Perbankan tampaknya dijalankan dengan baik, tapi ternyata dibelakangnya manipulatif,” jelasnya.

Dia mengatakan kondisi perbankan tahun 1997 berbeda dengan saat ini. Saat ini, kata dia, kondisinya jauh lebih sehat. Hal ini, ungkap Burhan, dapat diindikasikan oleh beberapa faktor. Contohnya, saat ini neraca pembayaran Indonesia surplus besar, sehingga cadangan devisa meningkat dan nilai tukar relatif stabil. Menurutnya, surplus neraca pembayaran di Indonesia saat ini merupakan yang keempat kalinya dalam sepanjang sejarah Indonesia

01 Januari 2009

SELAMAT TAHUN BARU

MANAGEMEN PT. BANK SYARIAH MEGA INDONESIA
CABANG KEDIRI

MENGUCAPKAN :

SELAMAT TAHUN BARU
1430 H dan 2009 M