Penyunting : Jauhar B.R.
( Mega Syariah News Edisi April 2009 )
( Mega Syariah News Edisi April 2009 )
Saya tertarik masuk ke perbankan syariah karena saya non-Muslim. Meski telah 27 tahun berkecimpung di bank konvensional, saya tidak mengerti sama sekali tentang perbankan syariah. Ini salah satu alasan saya bergabung dengan BMS.
Kendati identik dengan agama islam, perbankan syariah sesungguhnya bukan monopoli kaum muslim. Itulah keyakinan yang dianut oleh Sugeng Tjandra. Meski berlatang belakang non-Muslim, Sugeng Tjandra tetap enjoy menikmati pekerjaannya sebagai salah satu karyawan BMS. Menurut Tjandra begitu ia sering di sapa, bank syariah bukanlah bank yang khusus hanya melayani umat Islam. Perbankan syariah sesunguhnya merupakan sistem yang berlaku untuk semua umat. Apalagi prinsip syariah senantiasa menjunjung keterbukaan, keadilan dan kejujuran.” Berbekal pemahaman itulah, Tjandra merenda karirnya di BMS. Setiap kali menemui nasabah, pria yang sudah malang melintang di dunia perbakan selama 27 tahun ini selalu menyampaikan latar belakang agamanya. Dengan cara itu, ia berharap nasabah tak merasa canggung apalagi ketakutan ketika mendengar bank syariah.
Tjandra bercerita, ketika menemui kalangan non-Muslim atau komunitas Cina, banyak mereka yang tidak terlalu mempersoalkan status syariah tersebut. Bagi para nasabah itu, yang penting dana mereka aman dan bagi hasilnya menguntungkan. “Untuk bisa meraih hati nasabah, pelayanan benar-benar menjadi kunci utama. Jangan sampai mereka kecewa, karena itu bisa merugikan kita sendiri,” katanya.
Suami Linda Gunawan ini menuturkan, untuk menjaring nasabah, khususnya komunitas Cina pendekatan kesukuan lebih tepat. Soalnya, komunitas ini memiliki hubungan dan kekerabatan yang sangat erat. Komunitas Cina juga di kenal amat tertutup terhadap orang yang belum di kenal, kususnya mereka yang berasal dari kelompok kaya. Oleh sebab itu, kerahasiaan nasabah harus benar–benar dijaga. Orang cina tak ingin orang tau tentang kehidupannya.
Tjandra bilang, untuk masuk ke warga cina bukan hal yang sulit. Syaratnya, kita dapat memahami karakter dan dapat membawa diri ketika berada di dalam komunitas itu. Ketika kita sampai mengecewakan mereka, hubungan ke seluruh komunitas bisa terganggu. Dampaknya, hubungan bisnis pun tak lancar. “ Hal-hal seperti inilah yang penting dipahami untuk mendekati mereka,” ujarnya.
Tjanra bergabung dengan BMS sejak bank ini masih berbendera Bank umum Tugu. Bank tersebut pada 2001 diambil alih oleh Para Group dan pada tahun 2004 dikonversi menjadi syariah, Tjandra di tawari untuk memilih dua opsi, yaitu bergabung dengan BMS atau tidak. “saya memilih bergabung karena saya belum tahu apa-apa tentang perbankan syariah,” katanya. Tjandra telah bekerja di bank konvensional sejak 1977 yaitu di Bank Bali.
Sebelum memutuskan bergabung, Tjandra mengaku telah mempertimbangkan secara matang. Maklum dia menganut agama Katholik. Karena latar belakang agama itulah Tjandra sempat kawatir akan bertahan lama di BMS. Bahkan, dia sempat mengungkapkan keraguan itu kepada manajemen. Tapi, rupanya, manajemen baru BMS tidak mempersoalkan agama, ras dan perbedaan lain. Menurut Tjandra sebelum mengambil keputusan, dia sering berdiskusi dengan Deviana Wijaya, Branch Manajer BMS Cabang Surabaya Semut.
Deviana, yang kala itu menjadi Kepala Operasi Bank Tugu memberikan dorongan positif untuk belajar dan bergabung dengan BMS” jelas Tjandra. Sejak itu pula hubungan mereka berdua kian dekat secara professional.
Pimpinan Cabang BMS Kediri ini mengaku perbedaan keyakinannya dengan karyawan tidak membuat kinerjanya terganggu. Terbukti, cabang yang kini dipimpinnya terus berkembang dan makin mendapat tempat di masyarakat. “Kalau urusan ibadah, itu urusan kita pribadi dengan Tuhan. Kita saling menghargai dan menghormati agama masing-masing” jelasnya. Setuju Pak !!
Tjandra bercerita, ketika menemui kalangan non-Muslim atau komunitas Cina, banyak mereka yang tidak terlalu mempersoalkan status syariah tersebut. Bagi para nasabah itu, yang penting dana mereka aman dan bagi hasilnya menguntungkan. “Untuk bisa meraih hati nasabah, pelayanan benar-benar menjadi kunci utama. Jangan sampai mereka kecewa, karena itu bisa merugikan kita sendiri,” katanya.
Suami Linda Gunawan ini menuturkan, untuk menjaring nasabah, khususnya komunitas Cina pendekatan kesukuan lebih tepat. Soalnya, komunitas ini memiliki hubungan dan kekerabatan yang sangat erat. Komunitas Cina juga di kenal amat tertutup terhadap orang yang belum di kenal, kususnya mereka yang berasal dari kelompok kaya. Oleh sebab itu, kerahasiaan nasabah harus benar–benar dijaga. Orang cina tak ingin orang tau tentang kehidupannya.
Tjandra bilang, untuk masuk ke warga cina bukan hal yang sulit. Syaratnya, kita dapat memahami karakter dan dapat membawa diri ketika berada di dalam komunitas itu. Ketika kita sampai mengecewakan mereka, hubungan ke seluruh komunitas bisa terganggu. Dampaknya, hubungan bisnis pun tak lancar. “ Hal-hal seperti inilah yang penting dipahami untuk mendekati mereka,” ujarnya.
Tjanra bergabung dengan BMS sejak bank ini masih berbendera Bank umum Tugu. Bank tersebut pada 2001 diambil alih oleh Para Group dan pada tahun 2004 dikonversi menjadi syariah, Tjandra di tawari untuk memilih dua opsi, yaitu bergabung dengan BMS atau tidak. “saya memilih bergabung karena saya belum tahu apa-apa tentang perbankan syariah,” katanya. Tjandra telah bekerja di bank konvensional sejak 1977 yaitu di Bank Bali.
Sebelum memutuskan bergabung, Tjandra mengaku telah mempertimbangkan secara matang. Maklum dia menganut agama Katholik. Karena latar belakang agama itulah Tjandra sempat kawatir akan bertahan lama di BMS. Bahkan, dia sempat mengungkapkan keraguan itu kepada manajemen. Tapi, rupanya, manajemen baru BMS tidak mempersoalkan agama, ras dan perbedaan lain. Menurut Tjandra sebelum mengambil keputusan, dia sering berdiskusi dengan Deviana Wijaya, Branch Manajer BMS Cabang Surabaya Semut.
Deviana, yang kala itu menjadi Kepala Operasi Bank Tugu memberikan dorongan positif untuk belajar dan bergabung dengan BMS” jelas Tjandra. Sejak itu pula hubungan mereka berdua kian dekat secara professional.
Pimpinan Cabang BMS Kediri ini mengaku perbedaan keyakinannya dengan karyawan tidak membuat kinerjanya terganggu. Terbukti, cabang yang kini dipimpinnya terus berkembang dan makin mendapat tempat di masyarakat. “Kalau urusan ibadah, itu urusan kita pribadi dengan Tuhan. Kita saling menghargai dan menghormati agama masing-masing” jelasnya. Setuju Pak !!
mega mitra syariah = asu bajingan
BalasHapus